watch sexy videos at nza-vids!
/.

KOLEKSI BOKEP LENGKAP,BOKEP INDO,BARAT,ASIAN,JEPANG,CERITA SEX,PHOTO BUGIL.
PERHATIAN.!!!
DILARANG COLY DI DEPAN UMUM

Cara Download

Ayu dan Efi Ibu dan Anak Sekaligus

Didalam cerita pengalaman saya yang pertama
yang saya beri judul "Masa kecil saya di
Palembang", saya menceritakan bagaimana saya
diperkenalkan kepada kenikmatan senggama pada
waktu saya masih berumur 13 tahun oleh Ayu,
seorang wanita tetangga kami yang telah berumur
jauh lebih tua. Saya dibesarkan didalam keluarga
yang sangat taat dalam agama. Saya sebelumnya
belum pernah terekspos terhadap hubungan laki-
laki dan perempuan. Pengetahuan saya mengenai
hal-hal persetubuhan hanyalah sebatas apa yang
saya baca didalam cerita-cerita porno ketikan yang
beredar di sekolah ketika saya duduk di bangku
SMP. Pada masa itu belum banyak kesempatan
bagi anak lelaki seperti saya walaupun melihat
tubuh wanita bugil sekalipun. Anak-anak lelaki
masa ini mungkin susah membayangkan bahwa
anak seperti saya cukup melihat gambar-gambar
di buku mode-blad punya kakak saya seperti Lana
Lobell, dimana terdapat gambar-gambar bintang
film seperti Ginger Roberts, Jayne Mansfield, yang
memperagakan pakaian dalam, ini saja sudah
cukup membuat kita terangsang dan melakukan
masturbasi beberapa kali. Bisalah dibayangkan
bagaimana menggebu-gebunya gairah dan nafsu
saya ketika diberi kesempatan untuk secara nyata
bukan saja hanya bisa melihat tubuh bugil wanita
seperti Ayu, tetapi bisa mengalami kenikmatan
bersanggama dengan wanita sungguhan, tanpa
memperdulikan apakah wanita itu jauh lebih tua.
Dengan hanya memandang tubuh Ayu yang
begitu mulus dan putih saja sucah cukup
sebetulnya untuk menjadi bahan imajinasi saya
untuk bermasturbasi, apalagi dengan secara
nyata-nyata bisa merasakan hangatnya dan
mulusnya tubuhnya. Apalagi betul-betul melihat
kemaluannya yang mulus tanpa jembut. Bisa
mencium dan mengendus bau kemaluannya yang
begitu menggairahkan yang kadang-kadang masih
berbau sedikit amis kencing perempuan dan yang
paling hebat lagi buat saya adalah bisanya saya
menjilat dan mengemut kemaluannya dan
kelentitnya yang seharusnyalah masih merupakan
buah larangan yang penuh rahasia buat saya.
Mungkin pengalaman dini inilah yang membuat
saya menjadi sangat menikmati apa yang disebut
cunnilingus, atau mempermainkan kemaluan
wanita dengan mulut. Sampai sekarangpun saya
sangat menikmati mempermainkan kemaluan
wanita, mulai dari memandang, lalu mencium
aroma khasnya, lalu mempermainkan dan
menggigit bibir luarnya (labia majora), lalu
melumati bagian dalamnya dengan lidah saya, lalu
mengemut clitorisnya sampai si wanita minta-
minta ampun kewalahan. Yang terakhir barulah
saya memasukkan batang kemaluan saya kedalam
liang sanggamanya yang sudah banjir. Setelah
kesempatan saya dan Ayu untuk bermain cinta
(saya tidak tahu apakah itu bisa disebut bermain
cinta) yang pertama kali itu, maka kami menjadi
semakin berani dan Ayu dengan bebasnya akan
datang kerumah saya hampir setiap hari, paling
sedikit 3 kali seminggu. Apabila dia datang, dia
akan langsung masuk kedalam kamar tidur saya,
dan tidak lama kemudian sayapun segera
menyusul. Biasanya dia selalu mengenakan daster
yang longgar yang bisa ditanggalkan dengan
sangat gampang, hanya tarik saja keatas melalui
kepalanya, dan biasanya dia duduk dipinggiran
tempat tidur saya. Saya biasanya langsung
menerkam payudaranya yang sudah agak kendor
tetapi sangat bersih dan mulus. Pentilnya dilingkari
bundaran yang kemerah-merahan dan pentilnya
sendiri agak besar menurut penilaian saya. Ayu
sangat suka apabila saya mengemut pentil
susunya yang menjadi tegang dan memerah, dan
bisa dipastikan bahwa kemaluannya segera
menjadi becek apabila saya sudah mulai ngenyot-
ngenyot pentilnya. Mungkin saking tegangnya
saya didalam melakukan sesuatu yang terlarang,
pada permulaannya kami mulai bersanggama,
saya sangat cepat sekali mencapai klimaks.
Untunglah Ayu selalu menyuruh saya untuk
menjilat-jilat dan menyedot-nyedot kemaluannya
lebih dulu sehingga biasanya dia sudah orgasme
duluan sampai dua atau tiga kali sebelum saya
memasukkan penis saya kedalam liang
peranakannya, dan setelah saya pompa hanya
beberapa kali saja maka saya seringkali langsung
menyemprotkan mani saya kedalam vaginanya.
Barulah untuk ronde kedua saya bisa menahan
lebih lama untuk tidak ejakulasi dan Ayu bisa
menyusul dengan orgasmenya sehingga saya
bisa merasakan empot-empotan vaginanya yang
seakan-akan menyedot penis saya lebih dalam
kedalam sorga dunia. Ayu juga sangat doyan
mengemut-ngemut penis saya yang masih belum
bertumbuh secara maksimum. Saya tidak disunat
dan Ayu sangat sering menggoda saya dengan
menertawakan "kulup" saya, dan setelah beberapa
minggu Ayu kemudian berhasil menarik seluruh
kulit kulup saya sehingga topi baja saya bisa
muncul seluruhnya. Saya masih ingat bagaimana
dia berusaha menarik-narik atau mengupas kulup
saya sampai terasa sakit, lalu dia akan
mengobatinya dengan mengemutnya dengan
lembut sampai sakitnya hilang. Setelah itu dia
seperti memperolah permainan baru dengan
mempermainkan lidahnya disekeliling leher penis
saya sampai saya merasa begitu kegelian dan
kadang-kadang sampai saya tidak kuat
menahannya dan mani saya tumpah dan muncrat
ke hidung dan matanya. Kadang-kadang Ayu juga
minta "main" walaupun dia sedang mens.
Walaupun dia berusaha mencuci vaginanya lebih
dulu, saya tidak pernah mau mencium vaginanya
karena saya perhatikan bau-nya tidak
menyenangkan. Paling-paling saya hanya
memasukkan penis saja kedalam vaginanya yang
terasa banjir dan becek karena darah mensnya.
Terus terang, saya tidak begitu menikmatinya dan
biasanya saya cepat sekali ejakulasi. Apabila saya
mencabut kemaluan saya dari vagina Ayu, saya
bisa melihat cairan darah mensnya yang
bercampur dengan mani saya. Kadang-kadang
saya merasa jijik melihatnya. Satu hari, kami
sedang asyik-asyiknya menikmati sanggama,
dimana kami berdua sedang telanjang bugil dan
Ayu sedang berada didalam posisi diatas
menunggangi saya. Dia menaruh tiga buah bantal
untuk menopang kepala saya sehingga saya bisa
mengisap-isap payudaranya sementara dia
menggilas kemaluan saya dengan dengan
kemaluannya. Pinggulnya naik turun dengan
irama yang teratur. Kami rileks saja karena sudah
begitu seringnya kami bersanggama. Dan
pasangan suami isteri yang tadinya menyewa
kamar dikamar sebelah, sudah pindah kerumah
kontrakan mereka yang baru. Saya sudah ejakulasi
sekali dan air mani saya sudah bercampur dengan
jus dari kemaluannya yang selalu membanjir. Lalu
tiba-tiba, pada saat dia mengalami klimaks dan dia
mengerang-erang sambil menekan saya dengan
pinggulnya, anak perempuannya yang bernama
Efi ternyata sedang berdiri dipintu kamar tidur saya
dan berkata, "Ibu main kancitan, iya..?" (kancitan =
ngentot, bahasa Palembang) Saya sangat kaget
dan tidak tahu harus berbuat bagaimana tetapi
karena sedang dipuncak klimaksnya, Ayu diam
saja terlentang diatas tubuh saya. Saya melirik dan
melihat Efi datang mendekat ketempat tidur,
matanya tertuju kebagian tubuh kami dimana
penis saya sedang bersatu dengan dengan
kemaluan ibunya. Lalu dia duduk di pinggiran
tempat tidur dengan mata melotot. "Hayo, ibu
main kancitan," katanya lagi. Lalu pelan-pelan Ayu
menggulingkan tubuhnya dan berbaring
disamping saya tanpa berusaha menutupi
kebugilannya. Saya mengambil satu bantal dan
menutupi perut dan kemaluan saya . "Efi, Efi.
Kamu ngapain sih disini?" kata Ayu lemas. "Efi
pulang sekolah agak pagi dan Efi cari-cari Ibu
dirumah, tahunya lagi kancitan sama Bang Johan,"
kata Efi tanpa melepaskan matanya dari arah
kemaluan saya. Saya merasa sangat malu tetapi
juga heran melihat Ayu tenang-tenang saja. "Efi
juga mau kancitan," kata Efi tiba-tiba. "E-eh, Efi
masih kecil.." kata ibunya sambil berusaha duduk
dan mulai mengenakan dasternya. "Efi mau
kancitan, kalau nggak nanti Efi bilangin Abah."
"Jangan Efi, jangan bilangin Abah.., kata Ayu
membujuk. "Efi mau kancitan," Efi membandel.
"Kalo nggak nanti Efi bilangin Abah.." "Iya udah,
diam. Sini, biar Johan ngancitin Efi." Ayu berkata.
Saya hampir tidak percaya akan apa yang saya
dengar. Jantung saya berdegup-degup seperti alu
menumbuk. Saya sudah sering melihat Efi
bermain-main di pekarangan rumahnya dan
menurut saya dia hanyalah seorang anak yang
masih begitu kecil. Dari mana dia mengerti tentang
"main kancitan" segala? Ayu mengambil bantal
yang sedang menutupi kemaluan saya dan
tangannya mengelus-ngelus penis saya yang
masih basah dan sudah mulai berdiri kembali.
"Sini, biar Efi lihat." Ayu mengupas kulit kulup saya
untuk menunjukkan kepala penis saya kepada Efi.
Efi datang mendekat dan tangannya ikut
meremas-remas penis saya. Aduh maak, saya
berteriak dalam hati. Bagaimana ini kejadiannya?
Tetapi saya diam saja karena betul-betul bingung
dan tidak tahu harus melakukan apa. Tempat tidur
saya cukup besar dan Ayu kemudian menyutuh
Efi untuk membuka baju sekolahnya dan telentang
di tempat tidur didekat saya. Saya duduk dikasur
dan melihat tubuh Efi yang masih begitu remaja.
Payudaranya masih belum berbentuk, hampir rata
tetapi sudah agak membenjol. Putingnya masih
belum keluar, malahan sepertinya masuk kedalam.
Ayu kemudian merosot celana dalam Efi dan saya
melihat kemaluan Efi yang sangat mulus, seperti
kemaluan ibunya. Belum ada bibir luar, hanya
garis lurus saja, dan diantara garis lurus itu saya
melihat itilnya yang seperti mengintip dari sela-sela
garis kemaluannya. Efi merapatkan pahanya dan
matanya menatap kearah ibunya seperti
menunggu apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Saya mengelus-elus bukit venus Efi yang agak
menggembung lalu saya coba merenggangkan
pahanya. Dengan agak enggan, Efi menurut, dan
saya berlutut di antara kedua pahanya dan
membungkuk untuk mencium selangkangan Efi.
"Ibu, Efi malu ah.." kata Efi sambil berusaha
menutup kemaluannya dengan kedua tangannya.
"Ayo, Efi mau kancitan, ndak?" kata Ayu. Saya
mengendus kemaluan Efi dan baunya sangat
tajam. "Uh, mambu pesing." Saya berkata dengan
agak jijik. Saya juga melihat adanya "keju" yang
keputih-putihan diantara celah-celah bibir
kemaluan Efi. "Tunggu sebentar," kata Ayu yang
lalu pergi keluar kamar tidur. Saya menunggu
sambil mempermainkan bibir kemaluan Efi dengan
jari-jari saya. Efi mulai membuka pahanya makin
lebar. Sebentar kemudian Ayu datang membawa
satu baskom air dan satu handuk kecil. Dia pun
mulai mencuci kemaluan Efi dengan handuk kecil
itu dan saya perhatikan kemaluan Efi mulai
memerah karena digosok-gosok Ayu dengan
handuk tadi. Setelah selesai, saya kembali
membongkok untuk mencium kemaluan Efi.
Baunya tidak lagi setajam sebelumnya dan
sayapun menghirup aroma kemaluan Efi yang
hanya berbau amis sedikit saja. Saya mulai
membuka celah-celah kemaluannya dengan
menggunakan lidah saya dan Efi-pun
merenggangkan pahanya semakin lebar. Saya
sekarang bisa melihat bagian dalam kemaluannya
dengan sangat jelas. Bagian samping kemaluan Efi
kelihatan sangat lembut ketika saya membuka
belahan bibirnya dengan jari-jari saya, kelihatanlah
bagian dalamnya yang sangat merah. Saya isap-
isap kemaluannya dan terasa agak asin dan ketika
saya mempermainkan kelentitnya dengan ujung
lidah saya, Efi menggeliat-geliat sambil
mengerang, "Ibu, aduuh geli, ibuu.., geli nian
ibuu.." Saya kemudian bangkit dan mengarahkan
kepala penis saya kearah belahan bibir kemaluan
Efi dan tanpa melihat kemana masuknya, saya
dorong pelan-pelan. "Aduh, sakit bu..," Efi hampir
menjerit. "Johan, pelan-pelan masuknya." Kata
Ayu sambil mengelus-elus bukit Efi. Saya coba lagi
mendorong, dan Efi menggigit bibirnya kesakitan.
"Sakit, ibu." Ayu bangkit kembali dan
berkata,"Johan tunggu sebentar," lalu dia pergi
keluar dari kamar. Saya tidak tahu kemana Ayu
perginya dan sambil menunggu dia kembali
sayapun berlutut didepan kemaluan Efi dan sambil
memegang batang penis, saya mempermainkan
kepalanya di clitoris Efi. Efi memegang kedua
tangan saya erat-erat dengan kedua tangannya
dan saya mulai lagi mendorong. Saya merasa
kepala penis saya sudah mulai masuk tetapi
rasanya sangat sempit. Saya sudah begitu terbiasa
dengan lobang kemaluan Ayu yang longgar dan
penis saya tidak pernah merasa kesulitan untuk
masuk dengan mudah. Tetapi liang vagina Efi
yang masih kecil itu terasa sangat ketat. Tiba-tiba
Efi mendorong tubuh saya mundur sambil
berteriak, "Aduuh..!" Rupanya tanpa saya sadari,
saya sudah mendorong lebih dalam lagi dan Efi
masih tetap kesakitan. Sebentar lagi Ayu datang
dan dia memegang satu cangkir kecil yang berisi
minyak kelapa. Dia mengolesi kepala penis saya
dengan minyak itu dan kemudian dia juga
melumasi kemaluan Efi. Kemudian dia memegang
batang kemaluan saya dan menuntunnya pelan-
pelan untuk memasuki liang vagina Efi. Terasa licin
memang dan saya-pun bisa masuk sedikit demi
sedikit. Efi meremas tangan saya sambil menggigit
bibir, apakah karena menahan sakit atau
merasakan enak, saya tidak tahu pasti. Saya
melihat Efi menitikkan air mata tetapi saya
meneruskan memasukkan batang penis saya
pelan-pelan. "Cabut dulu," kata Ayu tiba-tiba. Saya
menarik penis saya keluar dari lobang kemaluan
Efi. Saya bisa melihat lobangnya yang kecil dan
merah seperti menganga. Ayu kembali melumasi
penis saya dan kemaluan Efi dengan minyak
kelapa, lalu menuntun penis saya lagi untuk masuk
kedalam lobang Efi yang sedang menunggu. Saya
dorong lagi dengan hati-hati, sampai semuanya
terbenam didalam Efi. Aduh nikmatnya, karena
lobang Efi betul-betul sangat hangat dan ketat, dan
saya tidak bisa menahannya lalu saya tekan
dalam-dalam dan air manikupun tumpah didalam
liang kemaluan Efi. Efi yang masih kecil. Saya juga
sebetulnya masih dibawah umur, tetapi pada saat
itu kami berdua sedang merasakan bersanggama
dengan disaksikan Ayu, ibunya sendiri. Efi belum
tahu bagaimana caranya mengimbangi gerakan
bersanggama dengan baik, dan dia diam saja
menerima tumpahan air mani saya. Saya juga
tidak melihat reaksi dari Efi yang menunjukkan
apakah dia menikmatinya atau tidak. Saya
merebahkan tubuh saya diatas tubuh Efi yang
masih kurus dan kecil itu. Dia diam saja. Setelah
beberapa menit, saya berguling kesamping dan
merebahkan diri disamping Efi. Saya merasa
sangat terkuras dan lemas. Tetapi rupanya Ayu
sudah terangsang lagi setelah melihat saya
menyetubuhi anaknya. Diapun menaiki wajah
saya dan mendudukinya dan menggilingnya
dengan vaginanya yang basah, dan didalam kami
di posisi 69 itu diapun mengisap-ngisap penis
saya yang sudah mulai lemas sehingga penis saya
itu mulai menegang kembali. Wajah saya begitu
dekat dengan anusnya dan saya bisa mencium
sedikit bau anus yang baru cebok dan entah
kenapa itu membuat saya sangat bergairah. Nafsu
kami memang begitu menggebu-gebu, dan saya
sedot dan jilat kemaluan Ayu sepuas-puasnya,
sementara Efi menonton kami berdua tanpa
mengucapkan sepatah katapun. Saya sudah
mengenal kebiasaan Ayu dimana dia sering kentut
kalau betul-betul sedang klimaks berat, dan saat
itupun Ayu kentut beberapa kali diatas wajah saya.
Saya sempat melihat lobang anusnya ber-getar
ketika dia kentut, dan sayapun melepaskan
semburan air mani saya yang ketiga kalinya hari
itu didalam mulut Ayu. "Alangkah lemaknyoo..!"
saya berteriak dalam hati. "Ugh, ibu kentut," kata
Efi tetapi Ayu hanya bisa mengeluarkan suara
seperti seseorang yang sedang dicekik lehernya.
Hanya sekali itu saja saya pernah menyetubuhi Efi.
Ternyata dia masih belum cukup dewasa untuk
mengetahui nikmatnya bersanggama. Dia masih
anak kecil, dan pikirannya sebetulnya belum
sampai kepada hal-hal seperti itu. Tetapi saya dan
Ayu terus menikmati indahnya permainan
bersanggama sampai dua atau tiga kali seminggu.
Saya masih ingat bagaimana saya selalu merasa
sangat lapar setelah setiap kali kami selesai
bersanggama. Tadinya saya belum mengerti
bahwa tubuh saya menuntut banyak gizi untuk
menggantikan tenaga saya yang dikuras untuk
melayani Ayu, tetapi saya selalu saya merasa ingin
makan telur banyak-banyak. Saya sangat
beruntung karena kami kebetulan memelihara
beberapa puluh ekor ayam, dan setiap pagi saya
selalu menenggak 4 sampai 6 butir telur mentah.
Saya juga memperhatikan dalam tempo setahun
itu penis saya menjadi semakin besar dan bulu
jembut saya mulai menjadi agak kasar. Saya tidak
tahu apakah penis saya cukup besar dibandingkan
suami Ayu ataupun lelaki lain. Yang saya tahu
adalah bahwa saya sangat puas, dan kelihatannya
Ayu juga cukup puas. Saya tidak merasa seperti
seorang yang bejat moral. Saya tidak pernah
melacur dan ketika saya masih kawin dengan isteri
saya yang orang bule, walaupun perkawinan kami
itu berakhir dengan perceraian, saya tidak pernah
menyeleweng. Tetapi saya akan selalu berterima
kasih kepada Ayu (entah dimana dia sekarang)
yang telah memberikan saya kenikmatan didalam
umur yang sangat dini, dan pelajaran yang sangat
berharga didalam bagaimana melayani seorang
perempuan, terlepas dari apakah itu salah atau
tidak.

Terima kasih sudah mampir disini, jangan lupa untuk balik lagi ya....
Koleksi Foto bugil terlengkap, Foto bugil Tante Girang, Foto Bugil Pelajar, Foto Bugil Jilbab, Gambar Memek, Video XXX, Cerita Sex, Foto Bugil Terbaru, Foto Bugil 2014, Video Bokep Indo, Jepang, Barat, Video Streaming

Cooltext1363165660
Di Dukung oleh
Tusfiles-logo
U-
ON
xoxHits.com
- free counter service
TOP RANK
All right Reserved
Created By :
[ EZROD - ANDIKA ]
Powered by : SEXTGEM
© 2014 - 2020